Kasnadi *
http://sastra-indonesia.com
Pemuda adalah tulang punggung bangsa
Kejayaan suatu bangsa tergantung pada generasi mudanya
Bagaimanakah generasi kita?
Pada suatu waktu tetangga saya, seorang nyonya, seorang calon ibu –saat ini hamil dan mungkin sebentar lagi melahirkan karena usia kandungannya sudah sembilan bulan kurang sepuluh hari– mengutarakan niatnya untuk melahirkan dengan operasi. Operasi itu sudah menjadi pilihan sejak kehamilannya terdeteksi. Salah satu alasan dia adalah sayang suami. “Wah …, sayang suami lalu bagaimana sayang anaknya”, pikir saya secara diam-diam.
Di manakah rasa kasih sayang seorang ibu terhadap anaknya sekarang ini?
Persoalan melahirkan bagi ibu-ibu modern, terutama ibu muda, apalagi yang suka selebrasi, menjadi barang mewah. Mewahnya sebuah persalinan, banyak ibu yang tidak mau melahirkan secara alamiah, mereka cenderung memilih bayinya diambil oleh dokter lewat perut. Kata ibu-ibu, persalinan seperti itu lebih cepat, praktis, tidak menimbulkan kekhawatiran ini dan itu, tidak sakit, tidak merusak saraf otak bayi. Dan yang paling penting tidak merusak body agar selalu disayang suami.
Lalu, di manakah kasih sayang seorang ibu kepada buah hatinya?
Bagi kaum hawa, ibu-ibu muda, barang mewah lain selain persoalan persalinan masih sederet. Biasanya, habis persalinan, urusan bayi seolah-olah bukan urusan mereka. Mereka tidak mau menyusui si kecil, ia enggan memberi asi, mereka lebih suka mengganti dengan susu sapi. Mereka kurang sreg menyusui dengan segudang alasan. Kata mereka tak punya waktu, merusak kegiatan macam: jadwal shooting, agenda shoping, acara cating, pokoknya si kecil membuat ribet dech! Dan lagi-lagi alasan klise dari seorang ibu akan merusak body dan takut tidak disayang suami.
Lalu, di manakah sentuhan seorang ibu untuk bayinya yang lucu?
Ibu-ibu tidak mau menggendong bayi lagi, mereka enggan mendekap si kecil dengan sentuhan dadanya. Mereka sudah alergi merengkuh dengan lengannya. Mereka sudah enggan menyentuh si kecil dengan belaian jari-jemartinya, mereka sudah tak mau membelai dengan belaian kasing sayang, mereka sudah enggan membelai dengan hatinya. Malahan, mereka –ibu-ibu modern– suka menggunakan tempat bayi yang didorong, mirip barang yang tak berguna.
Lalu, di manakah kepedulian seorang ibu untuk mencetak generasi sekarang ini?
Ibu-ibu pascamodern sudah tidak mau menyuapi anaknya dengan tangan sendiri, tidak mau meracik makanan kesukaan si buah hati, mereka lebih suka menyerahkan ke pembantu, mereka lebih suka menyerahkan ke neneknya. Mereka tidak mau pusing-pusing mengurusi bayinya, tidak mau repot-repot mengasuhnya, mereka lebih suka mengalihkan tanggung jawab itu ke baby siter-nya.
Lalu, di manakah tanggung jawab seorang ibu demi keutuhan pribadi anaknya?
Ibu-ibu melineum ini sudah tidak mau mendongengi si kecil untuk pengantar tidurnya, tetapi lebih suka menyerahkan kepada televisinya. Mereka sudah tidak sempat memperdengarkan tembang dolanan yang terdengan kuno, mereka menggantinya dengan lagu-lagu pop yang cocok dikonsumsi orang dewasa. Mereka tidak sempat lagi bercanda ria, mereka sibuk dengan urusan kerja. Mereka tidak sempat bermain congklak dengan anaknya, mereka menyuguhi permainan modern di komputernya. Ibu-ibu tidak mau mengajari matematika dan etika, ibu-ibu lebih senang menyerahkan kepada guru privatnya.
Lalu, mau dibawa ke mana generasi kita ini?
Mari kita renungkan penggalan sajak Dorothy Notle Law dalam Children Learn What the Live di bawah ini.
Jika anak dibesarkan dengan celaan/Ia belajar memaki/Jika anak dibesarkan dengan permusuhan/Ia belajar berkelahi….Jika anak dibesarkan denga kasih sayang/Ia belajar menemukan cinta dalam kehidupan.
*) Penulis adalah stap pengajar STKIP PGRI Ponorogo.
Dijumput dari: http://sastra-indonesia.com/2013/06/generasi/
Etikette
Apresiasi Prosa (Mencari Nilai. Memahami Fiksi)
Arswendo Atmowiloto
Brunel University London
Budi Dama
Cerita
Cover Buku
Dr. Kasnadi
Dr. Sutejo
Eka Budianta
Esai
Gede Prama
Ibnu Wahyudi
Iskandar Noe
Kajian Prosa (Kiat Menyisir Dunia Prosa)
Kajian Puisi (Teori dan Aplikasinya)
Kasnadi
Kritik Sastra
Legenda
M. Yoesoef
Mardi Luhung
Menulis Kreatif (Kiat Cepat Menulis Puisi dan Cerpen)
Murnierida Pram
Nurel Javissyarqi
Peter Elbow
Phuket Beach Thailand
Prof. Dr. Djoko Saryono
Prof. Dr. Setya Yuwana
Pusat Dokumentasi Sastra H.B. Jassin
Ririen Wardiani
Sanggar Teater Jerit
Sihar Ramses Simatupang
Siwi Dwi Saputro
Sofyan RH. Zaid
Sosiologi Sastra (Menguak Dimensionalitas Sosial dalam Sastra)
Spectrum Center
STKIP PGRI Ponorogo
Sumani
Sunu Wasono
Sutejo
Taman Ismail Marzuki
Umar Kayam
Universitas Indonesia
Veronika Ninik
Teken in op:
Plaas opmerkings (Atom)
- Sutejo Spectrum Center
- Sastra-Indonesia.com
- Sastra Tanah Air
- Sastra Perlawanan
- Sastra Pemberontak
- Sastra Gerilyawan
- Sajak-Sajak Pertiwi
- PUstakapuJAngga.com
- Puisi-Puisi Indonesia
- Penerbit PUstaka puJAngga
- Pembebasan Sastra
- Media Seputar Pendidikan
- Media Seputar Indonesia
- Media Sastra Nusantara
- Media Sastra Jatim
- Media Sastra Indonesia
- Media Ponorogo
- Media Lamongan
- Media Jawa Timur
- Media Dunia Sastra
- Media APSAS (Apresiasi Sastra)
- [World Letters]
Geen opmerkings nie:
Plaas 'n opmerking